Rabu, 15 Agustus 2012

resensi puisi

Pamor Kesejatian Hidup
Oleh: Hamidin Krazan

Judul Buku : Kumpulan Puisi Tegalan
Ngranggeh Katuranggan
Penerbit : Tegal Tegal
Dimensi Buku : 98 halaman
Cetakan Pertama :Januari 2009

UNTAIAN mutiara kehidupan tersirat dan terangkai pada seutas benang merah yang teracik dalam buku kupulan puisi ini. Karya puisi keroyokan yang melibatkan para penulis puisi dari lintas profesi bahkan lintas generasi. Kategori ‘penyair sejati’ hanya beberapa orang. Sebagian besar didominasi para penulis dari kalangan wiraswasta, guru, juragan, aparat, pejabat hingga Walikota.
Hal ini menjadi rangkaian kekuatan yang utuh bagai sajian musik orkestra. Semua puisi terhimpun dalam satu tema dan makna yang pencapaiannya melalui pelangi pikir yang merentas dari sudut pandang yang majemuk.
Tidak ditemukan makna ‘Ngranggeh Katuranggan’ baik secara etimologi maupun terminoligi di halaman pembuka dari untain judul ini. Secara filosofi, Dr Maufur memaparkan artinya pada puisi yang ditampilkan di back cover.
‘Ngrenggeh Katuranggan’ itu sebuah upaya meraih kemuliaan hidup dan kesejatian diri. Sejumlah puisi menampilkan pamornya dalam wujud tatanan kata dan makna parsial sesuai dengan ukuran nilai ideal dalam setiap lini kehidupan yang tentunya terjalin dengan proses penciptaan puisi.
Seperti pandangan Dr Maufur terhadap hakekat jabatan tersimpul menjadi satu untaian titian dari racikan nilai ideal pe-dapuk-an seorang abdi masyarakat, abdi bangsa sekaligus berada dalam poros putaran sikulus hakiki sebagai abdi Sang Khalik. Dalam puisi ‘Pangsiun’ (Dr Maufur) ngudarasa mengenai bagaimana sebuah deretan tugas formal yang dituntut harus ditunaikan agar menuai hasil maksimal namun dikerjakan dalam rentang waktu sejengkal. Salah satu larik menegaskan satu iktikad sekaligus prinsip. ‘…nyong tetep sahaja lan tansah berjuwang’. (…’aku selalu bersahaja dan tetap berjuang)
Kongkrit dari bentuk perjuangan, dibahasakan dalam ‘Clandakan’ (Emma Karimah), dengan cara kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan. Terwujudnya janji dengan bukti pelaksanaan program jika si aku lirik seorang eksekutif maupun legislatif.
Sedangkan puisi ‘Tak Jaluk’ dan Ngertia Maring Inyong’ (Lanag Setiawan) terpentok pada pupus atau sangga langit dari hakekat cinta biolgis. Beda jauh dengan ‘The Long and Winding Road’, Surat 1, 2 (M Hadi Utomo). Meski senafas, tetapi ketiga puisi M Hadi lebih menyajikan liris metaforis sehingga menguak ruang imaji lebih menembus hakikat cinta bernuansa transendental (ilahiyah). Meskipun belum sedahsyat konsep mahabbah tokoh sufi Rabiah Al Adawiyah.
Pamor atau citra kemulian yang diidamkan baik dalam kehidupan berkeluarga, buah madu dalam keluarga (anak), hakikat seorang istri, sosok ideal dalam bentangan umur yang sangat singkat, masing-masing terwakili dalam puisi ‘Bocah Ilang’ dan ‘Katresnan’ (Wijanarko), ‘Ora Gampang’ (Oyan S Aryo), ‘Bayangan’ (Denok Harti), ‘Ngenteni’ (H Tambari Gustam).
Wacana jatidiri bangsa dan ke-Indonesia-an sejati tertutur melalui ‘Salah Sijine Crita’ (Diah Setyawati), ‘Mbetahi lan Ngayemi’ (Abu ma’mur MF). Praktik hidup sosial kemasyarakatan maupun sikap politis seseorang idelanya tidak segetir dalam ‘Negara Cingkarangmalang…’ (Nurngudiono) atau ‘Brandal Mas Cilik’ (Yono Daryono) yang menyuarakan kondisi tatanan sosial yang asosial. Lebih mengiris nadi rakyat lagi jika di dalam kehidupan masyarakat dan berbangsa ‘…pemimpine budek picek gupak madu.’ (Pemimpinnya tuli buta berkubang madu).
Kalaupun mereka baik --namun masih ada tapinya-- seperti disinyalir ada persekongkolan subhat, dalam puisi Wali Kota Tegal, Adi Winarso berjudul ‘Pecingan’ dan ‘Onggrongan’. Kedua puisi ini oleh editor (Lanang Setiawan) ditempatkan sebagai puisi urutan terdepan.
Rumus menjadi baik, menghasilkan tatanan dan perilaku yang mendekati ideal, seseorang tidak bisa lepas dari proses dan pembelajaran kebaikan melalui berbagai jalan. Secara lirik puisi Atmo Tan Sidik memberikan indikasi wujud sang guru sejati, yakni pengalaman hidup itu sendiri. Ada semacam motivasi agar setiap orang pandai ber-iqra terhadap fenomena alam (ayat kauniyah) seperti pada puisi ‘Sing Nggo Tuku Sing langka’. Senada dengan itu tersebut dalam puisi ‘Resep Cina’ (Abu Ma’ruf).
Satu hal yang perlu direnungkan, Dwi Ery Santoso memberikan tutur tinular yang kini kian terlantar. Di salah satu petikan ‘Saoran-Orane’, Ery mengajak kontemplasi (muhasabah). //pancen saiki wong jawa wis akeh/ pada ninggalna watek asline/ ora pada gelem nyekeli elmu tani… // (Memang kini banyak orang Jawa/ melukar jati dirinya/ enggan berpegang ilmu petani…) Akibatnya? Silakan baca bukunya *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar